0

Do You Know What The Most Frightening Thing in A Dream?

1 Maret 2015, 16.52. Aku terbangun dari tidur sore karena satu hal. Sesuatu yang aneh dalam mimpiku yang memang terkadang aku alami.

Perkenalan Pertama, Kantor Kepala Sekolah

Semuanya berawal ketika aku masih menginjak jenjang sekolah dasar. Saat itu, malam seperti biasa, aku tidur nyenyak dengan sebuah bunga tidur yang sebelumnya tak pernah aku alami. Saat itu aku terbangun dan aku menyadari bahwa aku tengah berada di ruang kepala sekolah SD-ku. Kondisi saat itu adalah malam hari. Sekolahku tampak gelap gulita ketika aku mengintip dari jendela, kecuali beberapa cahaya redup yang berasal dari lampu-lampu jalan. Saat itu aku gelisah. Apakah kau tahu kenapa aku gelisah? Karena aku tahu saat itu aku tengah berada di dalam mimpi. Aku berjalan mondar mandir di dalam ruang kepala sekolahku, tak tahu mau kemana. Yang aku fikirkan hanya satu, aku ingin kembali ke dunia nyata. Aku ingin segera keluar dari mimpiku. Aku berfikir, apakah aku harus berjalan keluar dari ruangan itu dan menuju rumahku? Tapi aku takut, aku akan menemui hal-hal aneh dan tak terduga selama perjalananku. Karena itu adalah pertama kalinya aku berada di dunia aneh ini, dunia mimpi. Aku, yang kala itu masih berumur belia dan tak tahu apa-apa, akhirnya memutuskan untuk merunduk di pojok ruangan, aku memeluk erat kedua lututku dan kubenamkan mukaku di dalamnya. Yang aku fikirkan hanya satu. Aku ingin ‘pulang’. Entah bagaimana caranya, akhirnya aku terbangun dari mimpi aneh itu. Jujur, mimpi itu selama beberapa hari menggangguku karena aku takut kembali mengulanginya lagi. Aku menceritakan mimpi ini kepada seorang guru mengajiku, namun dia berkata hal itu wajar.

Anak Kecil dengan Rambut Pirang

Beberapa tahun kemudian, aku lupa tepatnya ketika aku tengah menginjak SMP atau SMA, aku tidur siang di dalam kamarku. Tiba-tiba aku menyadari aku tengah berada dalam sebuah kondisi yang susah untuk kujelaskan, namun aku menganggap kondisi itu adalah kondisi transformasi antara proses manusia sadar menuju manusia yang benar-benar terlelap dalam tidur. Aku tahu, saat itu aku sedang ‘menuju’ alam tidurku. Aku panik seketika, karena aku takut aku akan terbawa ke dalam dunia yang aku tak tahu bagaimana cara keluarnya, seperti beberapa tahun lalu. Akupun berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan kondisiku ke alam sadar, sebelum aku terlanjur berjalan ke dunia mimpi. Namun saat aku tengah berjalan tadi, aku melihat dengan sadar tubuhku yang tertidur di kamar, namun jiwaku yang saat itu hendak pergi juga berada dalam posisi yang sama. Keanehan lain yang aku temui adalah, aku melihat seorang anak kecil berambut pirang (lebih ke oranye) tengah menidurkan kepalanya di ranjangku. Seolah-olah menemani dan melihatiku saat aku tertidur. Aku tak tahu siapa anak itu dan yang aku fikirkan hanyalah keinginanku untuk kembali ke kondisi sadar. Aku mulai berdoa pada Allah agar aku kembali. Akhirnya pelan-pelan aku membuka mata dan kembali ke dunia normal namun anak itu sudah tidak ada di sisi ranjangku. Saat itu aku tidak dapat memikirkan apa yang baru saja aku alami. Aku hanya tertegun dan berdoa supaya hal ini tidak terjadi lagi.

Percakapan Dua Pria tak Dikenal

Sayangnya, beberapa tak lama setelah hari itu, aku mengalaminya lagi ketika aku tidur siang di kamarku seperti yang terakir kali kualami. Kali ini, kondisiku sama, aku tengah di dalam suatu keadaan antara sadar dan terlelap. Namun saat itu kondisinya gelap, apa yang aku lihat hanyalah hitam dan gelap di sekelilingku. Yang aku tahu pasti adalah aku memiliki kesempatan untuk segera kembali ke dunia normal sebelum aku terjebak seperti saat pertama kali mengalaminya. Aku tak lagi berjumpa dengan anak kecil berambut pirang, yang aku temui, mungkin lebih tepatnya yang aku dengar, adalah percakapan antara dua lelaki yang terdengar keras diiringi dengan tertawaan mereka. Namun aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Seolah-olah kedua lelaki tersebut berasal dari pojok kamarku, di mana aku menaruh sebuah rak buku disana. Ketika aku mulai memperhatikan apa yang sedang mereka perbincangkan, mereka seolah-olah diam dan ku pikir, mereka menyadari ada orang lain yang sedang memperhatikan mereka. Suara itu tak lagi muncul. Aku takut, dan semakin takut. Apa yang kutakutkan tidaklah jelas atau mungkin memang terlalu banyak yang kutakutkan saat itu. Seperti siapa mereka dan bagaimana caraku agar aku bisa kembali ke dunia normal. Aku pun berdoa sekeras mungkin, dan saat itu aku sadar diriku tengah berusaha sadar. Keringatku bercucuran, otakku rasanya capek, namun syukurlah aku dapat membuka mataku kembali dan berada di dunia normal.

Rasanya Seperti Aku Sedang Tertarik Magnet Dunia Aneh Itu

Beberapa tahun kemudian, aku sudah tidak pernah mengalami hal-hal aneh seperti itu, sehingga aku tak lagi takut dengan hal-hal itu. Saat aku berada di awal semester 3 kuliah, aku sempat menceritakan pengalaman aneh ini terhadap seorang temanku. Orang yang pertama kali aku ceritakan, selain guru mengajiku waktu itu. Dia memberitahuku tentang hal yang serupa, projek astral. Menurut cerita dia, projek astral adalah suatu kemampuan manusia yang dapat menyadari mimpinya bahkan memanfaatkan kondisinya yang di dalam mimpi itu untuk terbang kemanapun dia mau dalam mimpinya, namun dia harus tetap membawa sesuatu seperti tali agar dia tetap dapat kembali ke dunia normal. Aku tak berfikir aku memiliki kemampuan seperti itu karena selama ini, aku tak pernah menjumpai diriki tengah terbang dalam mimpi ataupun membawa suatu benang agar aku tetap dapat kembali. Aku juga tak begitu memperhatikan apa yang temanku katakan karena sudah beberapa tahun aku tak mengalami kejadian aneh seperti itu. Namun yang membuatku lega adalah, mungkin aku bukanlah satu-satunya orang yang mengalami mimpi aneh seperti itu dan aku belum pernah mendengar ada orang yang tersesat di dalam mimpinya sehingga tak kembali sampai sekarang sehingga aku tak perlu takut jika sewaktu-waktu aku mengalami mimpi seperti itu lagi.

Apa yang sudah lama tak aku alami pun kembali lagi. Kala itu aku tengah tidur siang, lagi, di rumahku. Aku kembali berada dalam kondisi ‘transisi’ alam sadar dan terlelap. Karena aku sudah pernah mengalami hal ini dua kali sebelumnya, aku lebih tenang dalam menghadapinya. Aku kembali berusaha bangun dan berhasil. Karena aku lelah, aku berusaha tidur lagi. Namun kejadian itu terulang lagi. Entah berapa kali aku mengalami kondisi bangun-dan-transisi pada siang itu. Otakku capek. Seolah-olah ada sesuatu di kamarku yang mencoba menarikku untuk mengalami kejadian seperti itu lagi. Sebuah pemikiran aneh dan tak berdasar, hanya karena beberapa kali aku mengalami kejadian yang sama di tempat dan waktu yang sama pula. Aku pun memutuskan untuk tidur di depan televisi di rumahku. Saat itu, Ibuku bertanya mengapa aku tak tidur dii kamar. Aku hanya menjawab bahwa aku ‘lelah’ tidur di kamar. Beliau yang terheran-heran mencecarku dengan beberapa pertanyaan lanjutan. Namun kondisiku yang sudah capek karena berusaha bangun kembali ke dunia normal tak memungkinkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibuku, aku pun hanya mengatakan “Nanti saat aku bangun, aku akan cerita”.

Sore itu juga ketika aku terbangun, aku duduk di meja makan bersama Ibuku. Lantas beliau menanyakan kembali hal yang sama. Aku pun menceritakan semua pengalamanku. Beliau hanya berkata “Ah, mungkin itu hanya mimpi” seolah tak mempercayaiku. Namun aku tahu, Ibuku hanya ingin menenangkanku.

De Javu

Suatu hari aku dan Tama menyusuri Kota Bandung, aku lupa entah kemana tujuan kami waktu itu. Saat itu kami tengah berada di suatu jalan dalam kondisi macet. Tama bertanya padaku “Kamu pernah nggak lewat jalan ini?”. Aku menjawab “Belum, kenapa?”. Dia pun membalas “Pasti nggak pernah, soalnya memang pertama kali kamu aku lewatin jalan ini”. Tama pun melanjutkan ceritanya tentang sebuah masjid dengan arsitektur khas kelenteng tionghoa di ujung jalan itu. Tak lama kemudian kami melewati sebuah gedung yang cukup besar dengan beberapa tingkat namun tampak kurang terawat. Aku merasa cukup familiar dengan gedung itu. Aku berusaha mengingat dimana aku pernah melihatnya. Ternyata aku ingat, aku pernah bermimpi akan gedung yang sama persis. Bagaimana kondisi dinging gedung hingga lantai parkiran gedung tersebut sangatlah mirip dengan gedung yang pernah kudatangi dalam mimpi. Sontak aku langsung mengutarakan mimpiku pada Tama. Tamapun yakin belum pernah mengajakku lewat jalan tersebut. Bisa jadi hal tersebut hanya kebetulan atau memang aku ‘pernah’ mengunjungi gedung tersebut saat lelap tertidur.

Dengungan Suara Bising

Setelah beberapa kali aku mengalami mimpi seperti ini, aku iseng mencoba mencari tahu apa itu projek astral. Orang di internet mengatakan bahwa saat pertama kali kita memasuki dunia astral, kita akan mendengar suatu bunyi bising yang sangat keras. Entah mengapa suatu malam aku merasakan hal itu saat aku baru memulai perjalanan tidurku. Aku pun berusaha keras terbangun kembali seperti sebelum-sebelumnya. Namun kufikir, mungkin saja itu hanyalah kerja saraf di otak dan telingaku yang sedikit terganggu saat tidur. Aku juga tak yakin apakah hal itu benar.

Terbang dan Berganti Lokasi

Inilah kejadian tadi sore yang membuatku ingin menuliskan artikel ini. Aku merasa lelah setelah membuat tugas dan memutuskan untuk tidur sejenak selama setengah jam. Saat aku sudah tertidur lelap, aku mengalami suatu mimpi, mimpi yang normal seperti yang orang lain rasakan (tidak sadar bahwa mereka sedang bermimpi). Aku tengah dalam perjalanan pulang dari kampus. Entah mengapa kampus tersebut tak seperti kampus dalam kehidupanku yang asli, namun aku merasa familiar dengan tempat tersebut dan berfikir bahwa itu adalah kampusku. Mungkin itu adalah kampusku di dunia mimpi. Perlu kalian tahu, bahwa setelah kuingat, lokasi tersebut sangatlah sering kujumpai dalam mimpi. Pernah beberapa kali aku mimpi di tempat yang sama. Saat itu kondisi di dalam mimpiku sedang siang hari. Aku berjalan menelusuri sebuah taman kampus yang penuh dengan kolam dan bunga warna warni. Ada seorang lelaki yang seumuran sebaya denganku berjalan mendahuluiku, kufikir dia adalah teman sekampusku. Dia terlihat normal dan seolah-olah berjalan di bumi dengan gaya grafitasi 9,8 m/s. Setelah dia pergi menghilang, aku baru menyadari ada yang aneh dengan diriku. Aku berjalan seperti di bulan, gaya grafitasi yang kualami sangatlah kecil, sehingga setiap langkahku seperti melayang-layang. Tiba-tiba badanku seolah-olah terbang, tinggi, dan semakin tinggi. Aku pun langsung sadar bahwa aku berada dalam dunia mimpi. Lagi. Aku menutup mataku. Aku takut. Aku tak tahu akan terus terbang kemana. Lalu setelah aku membuka mata, aku tersadar, aku tengah melayang di sebuah kamar. Di dalam kamar itu, ada sebuah ranjang, dimana aku sadar bahwa ada tubuhku di sana. Aku takut. Semakin takut. Aku terus melayang menjauh dari tubuhku. Dimensi mimpi yang aku alami pun berubah menjadi lebih abstrak. Rasanya aku ingin menangis, tak mengerti bagaimana cara keluar dari mimpi itu. Aku pun berdoa dan mengucapkan “Astaghfirullah” sebanyak mungkin yang aku bisa. Aku pun terbangun dari mimpi. Otakku lelah, sangat lelah. Aku tak berani melanjutkan tidurku.

Malamnya pun aku beranikan mencari tahu di internet apa yang aku alami, kata orang, aku sedang mengalami Lucid Dream, yaitu kondisi dimana manusia sadar bahwa ia sedang berada di dunia mimpi. Bahkan jika ia dapat mengubah mimpi sebagai ‘tempat wisata’-nya. Ia dapat mengatur alur dan setting mimpinya. Berita baiknya, hal ini berbeda dengan projek astral, karena lucid dream sama sekali tidak berbahaya. Syukurlah jika memang tidak berbahaya. Namun tetap saja, kalian tak akan pernah tahu seberapa menakutkannya berada dalam kesadaran dalam mimpi jika kalian tak pernah merasakannya sendiri.

2

Bahagia Mungkin Tak Sederhana

Bahagia itu hak masing-masing orang.
Kita bisa bahagia dengan jalan kita sendiri-sendiri.
Adalah hak kita untuk memilih berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain atau cukup diri kita yang ingin menikmatinya.
Jika kita sudah mengikat kebahagiaan dengan orang lain, kewajiban kita adalah menurunkan ego masing2 agar setiap orangnya bisa mendapat kebahagiaan tanpa membuat yang lain sedih bahkan kecewa.
Namun mengapa kita harus mengikat kebahagiaan itu, jika kita tak bisa saling menurunkan ego?
Mungkin selama masa ini lah kita tak akan bisa melihat apa itu bahagia.